19 November 2008

Mbak Sumirah

satu lagi email dari teman...

Sumirah nyambi jadi tukang sol sepatu, penjahit, dan pekerja pabrik.Sebagian hasil keringatnya itu ia gunakan untuk membangun madrasah, masjid,mushala, dan mengurus anak yatim.

Ternyata, beramal tidak harus menunggu kaya.

Penolakan halus langsung diucapkan Sumirah, pimpinan Panti Asuhan Yatim Piatu Amanah, Rungkut, Surabaya saat akan diwawancarai Surya untuk tulisan ini.

“ Saya ini apalah mbak, kok pakai diwawancarai. Masih banyak yang lebih bagus, lebih pintar dan lebih hebat,” elaknya saat ditemui di Panti Asuhan Amanah sekaligus rumahnya di Jalan Pandugo Gg II Nomor 30 B, Rungkut, Senin (15/9) lalu.

Secara materi, Sumirah memang belum bisa dibandingkan dengan pengusaha sukses. Namun, kekayaan hati Sumirah mungkin hanya dimiliki segelintir orang di abad ini.

Perempuan kelahiran 3 April 1965 ini tak cukup mengelola panti asuhan. Ia mendirikan madrasah, masjid, dan mushala di kampungnya, Pacitan.

Mungkin juga sulit dipercaya, Sumirah menghidupi anak-anak yatim dengan menjadi tukang pijat panggilan.

Rasa empati Sumirah sudah terpupuk sejak kecil. Ia terbiasa bergaul dengan anak-anak yatim asuhan almarhum Atmorejo, ayahnya.

“ Saat itu ada 100 anak yatim dan anak-anak lain yang berlatih ilmu kanuragan (kebatinan) di rumah. Mereka semua tinggal di rumah,” kata ibu lima anak ini.

Secara materi Sumirah kecil tercukupi, namun didikan ayahnya tidak membuatnya manja. Bahkan, sejak kelas II SD dia sudah menjadi tukang pijat alternatif, warisan keahlian turun temurun. Duitnya ' ditabung ' di mushala di Desa Kembang, Kecamatan Pacitan.

Saat itu saya masih ingat nasihat ayah.”Kalau kamu punya rezeki, 50 persen untuk kamu dan 50 persen lagi untuk musala. Pasti rezeki itu akan barokah” kenangnya.

Pesan almarhum ayahnya terus diingat Sumirah. Setiap rupiah dihasilkan,selalu disisihkan untuk mushala. Begitu pula ketika orderan memijat merambah hingga Madiun, bahkan Semarang.

Saat SMP, Sumirah dan kakaknya hijrah ke Jakarta.

Di kota megapolitan ini Sumirah tidak tertarik mencicipi pekerjaan lain. Kebetulan, kemampuan memijatnya tersohor hingga ke Jawa Barat.

Pada 1986, Sumirah dan suami mencari peruntungan di Surabaya.

Di kota ini, selain tetap memijat, ia bekerja di pabrik PT Horison Sintex(sekarang Lotus). Ia hanya masuk pabrik hari Selasa, Rabu, dan Kamis.

Namun dua profesi itu belum cukup. Merasa waktunya masih senggang, Sumirah mencari pekerjaan sampingan. Ia menjadi tukang sol sepatu, menjahit baju, dan tukang keriting rambut.

“Karena pekerjaan banyak, rata-rata saya hanya tidur dua jam sehari. Mijat saja sehari hingga 20 kali,” katanya sambil tersenyum.

Kerja keras itu impas dengan hasilnya. Sehari, tidak kurang ia mengantongi Rp 2 juta. Namun limpahan uang itu tidak membuatnya mabuk.

Uang itu dialirkan untuk membangun madrasah, mushala-mushala, dan masjid di desanya. Sumirah enggan menyebut nama-nama mushala itu.“ Nanti saya ndak di-ridhoi kalau pamer ” katanya.

Suatu ketika, Sumirah pulang kampung. Jalan di desanya tidak bisa dilewati karena rusak berat. Prihatin, ia dan suaminya memperkeras seluruh jalan itu dengan paving blok. Walhasil, rencana naik haji seketika batal karena simpanan Rp 60 juta habis untuk ongkos paving.

“ Saya tidak pernah menyimpan uang di bank. Bukan apa-apa, tapi karena tanda tangan saya tidak pernah sama. Itu tentu tidak boleh, kan ? ” katanya.

Hidup Sumirah teruji saat dia melihat banyak anak telantar di sekitar kampungnya. Dia nekat menampung 54 anak yatim itu di rumahnya yang berukuran 2,5 meter x 13 meter.

“ Sebagian dari mereka saya kos-kan di depan rumah. Saya sewa tiga kamar ” katanya.

Masalah datang ketika anak asuhnya ndableg dengan menghabiskan air dan sabun milik ibu kos. Sekitar pukul 21.00 WIB, anak-anak itu diusir.

“ Mereka saya tampung di rumah saya. Jadi, mereka tidur sambil duduk ” kata Sumirah.

Esoknya, Sumirah mencari kontrakan untuk mereka. Tawaran kontrakan Rp 4 juta ditolak karena Sumirah tak punya duit. Di tengah kesulitan, ia berdoa.

Mendadak ada semacam dorongan untuk menghubungi Pak Triyono, dermawan dari Barata Jaya, Surabaya. Sumirah kaget, Pak Triyono memberinya zakat maal (zakat kekayaan) sejumlah Rp 4 juta.

“ Agar tidak mengganggu penduduk kampung, pagi-pagi sekali kami pindahan ” katanya.

Panti Asuhan Amanah, kini menampung 60 anak yatim, dibangun Sumirah tahun 1996.

Mereka kanak-kanak hingga remaja. Belum lama ini Sumirah mengasuh balita yang ditinggal mati bapaknya.

Amelia, balita itu, sekarang berumur sembilan bulan.

“ Oh ya, saya sudah menikahkan 13 anak disini, 16 Oktober 2008 nanti saya mantu lagi ” ujarnya dengan mata berbinar.

Untuk mencukupi hidup anak asuhnya, Sumirah tidak mengandalkan bantuan donatur yang sebagian adalah pelanggan pijatnya.

Selepas subuh, anak yatim itu berdagang kelapa kupas, sayuran, dan bumbu. Sumirah dan suami juga membuka toko kelontong.

Mengakhiri kisahnya, Sumirah sempat bilang,“ Pergunakanlah mata hati. Banyak orang pintar yang belum tentu mengerti. ”

17 November 2008

Simbah Diyem


Meneruskan email dari teman

terlalu berharga untuk dilewatkan...


Simbah Diyem adalah seorang nenek tua sebatang kara yang berprofesi sebagai pedagang kerupuk puli. Sehari-hari simbah berjualan di Pasar Bandar Kediri. Seharian Simbah menempuh perjalanan dengan berjalan kaki tanpa alas menuju pasar dari rumahnya di lereng Gunung Klotok Sukorame yang berjarak 14 km. Kakinya bengkak... gondong di lehernya menunjukkan kemiskinan yang menerpa kesehariannya....


Usai berjualan, Sang Simbah selalu mampir Masjid Baiturahman yang terletak di Jalan Penanggungan tak jauh dari Pasar Bandar. Saat itu Masjid Baiturahman masih dipenuhi pepohonan yang rindang, di tambah beberapa pohon bambu di pojok depannya... Asrama IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) ada di samping masjid....
Setelah berwudhu’, simbah masuk masjid. Mengambil mukena dari keranjang kerupuknya dan melakukan solat Zuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya, Simbah keluar masjid dan mengumpulkan dedaun yang bertaburan di halaman masjid. Sehelai demi sehelai dikutipnya. Tidak satu helai pun dibiarkannya. Tentu saja agak lama simbah membersihkan masjid dengan cara itu, padahal matahari sedemikian menyengat. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Para takmir masjid dan pelajar SMP Muhammadiyah yang sehari-hari berada di lingkungan masjid menjadi iba melihatnya.


Pada suatu hari, takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum simbah datang. Ketika simbah datang dan seperti biasa usai sholat, melakukan pekerjaan rutinnya..... namun dia terkejut karena tidak ada satu helai pun daun yang berserakan di halaman masjid. Dia kembali ke masjid dan menangis sambil bertanya kepada semua orang mengapa dedaunan itu sudah disapu sebelum kedatangannya. Orang di dalam masjid menjawab, karena mereka kasihan melihatnya.

Seketika itu Simbah menjawab :"Jika kalian kasihan melihatku, berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya,"jawab simbah sembari menyeka air matanya. Singkat cerita, keesokan harinya simbah dibiarkan mengumpul dedaunan yang bertebaran di halaman masjid seperti biasa.

Orang-orang tak mengerti. Seorang pelajar Kelas II SMP Muhammadiyah bertanya, dan mendapat jawaban.. :"Saya ini perempuan bodoh," tuturnya. "Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya mungkin tidak selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Nabi Muhammad s.a.w. Setiap kali saya mengambil sehelai daun itu, saya mengucapkan selawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Nabi datang menjemput saya. Biarlah semua daun itu menjadi saksi saya berselawat kepadaNya"....Kami semua meneteskan air mata haru.....Kini Simbah Diyem mungkin telah tiada.....

14 November 2008

Tahu tetapi Tidak Melakukan

Seorang bijak datang ke suatu desa dan menetap disana untuk memberikan pencerahan.Ketika ia memberikan ceramahnya, orang-orang desa berduyun-duyun datang memenuhi balai desa untuk memdengarkan. Ceramahnya sangat menarik dan membuat orang-orang tercerahkan. Karena itu, mereka selalu tak sabar menunggu datangnya pencerahan-pencerahan berikutnya. 

Namun penduduk desa kemudian menemukan fakta, ternyata orang bijak tersebut selalu menyampaikan ceramah yang sama. Merekapun curiga bahwa orang ini sebenarnya seorang penipu yang hanya mengetahui satu ceramah.

Tak dapat lagi menahan kesabaran, penduduk desa beramai-ramai mendatangi orang bijak ini dan bertanya, " Tak dapatkah Anda menyampaikan ceramah yang lain?" Ditanya demikian, orang bijak tersebut hanya tersenyum. " Saya belum melihat anda melakukan apa yang telah saya sampaikan dalam ceramah pertama," katanya. "Jadi mengapa saya harus membebani Anda dengan hal yang lain?"

Apa yang dikatakan oleh orang tersebut sebetulnya sering kita alami. Banyak di antara kita yang kerap merasa cukup hanya dengan mengetahui sesuatu. Kita membaca banyak buku, mengikuti berbagai diskusi, menghadiri berbagai pelatihan. Namun perilaku kita tidak juga berubah. Kita tidak melakukan apa-apa. Kebiasaan lama yang tidak efektif masih terus kita jalankan. Ini tentu saja sebuah pemborosan yang tidak sedikit.

Ketika selesai memberikan pelatihan kepemimpinan di banyak tempat, tak sedikit peserta memberikan tanggapan positif sambil menanyakan positif sambil menanyakan, "kapan kita akan melakukan pelatihan lagi?" atau, "Apakah ada materi lanjutan untuk topik ini?". Tentu saja, saya merasa tersanjung dengan apresiasi yang luar biasa ini. Namun diam-diam saya sering membatin sambil mengatakan bahwa sebetulnya pelatihan ini sudah cukup. Yang diperlukan adalah penerapannya. Bukanlah sia-sia ketika pelatihan demi pelatihan dilakukan tanpa ada perubahan perilaku apa pun.

Meskipun demikian , fakta ini sering dilupakan orang: mengetahui tidak akan pernah membawa perubahan. Mengetahui tidak akan mengubah nasib Anda , yang akan mengubah nasib adalah melakukan! Namun, mengapa banyak orang tahu, tapi tidak melakukan apa-apa?

Ada tiga hal yang menjadi penyebabnya:

Pertama, Karena mengetahui sering memberikan sensasi hebat. Ketika mengetahui sesuatu anda merasa di atas kebanyakan orang. Mengetahui menimbulkan kebanggan tersendiri. Inilah yang saya sebut sebagai "Ilusi Pengetahuan". Ilusi ini berbunyi ”kita sudah berubah hanya dengan mengetahui.” Mengetahui sering memberikan jebakan tersendiri berupa perasaan aman dan nyaman. Dengan mengetahui, kita merasa siap menghadapai segala masalah.

Bahkan sekedar mengumpulkan buku yang tak pernah sempat kita baca maupun memunculkan ilusi ini. Ketika bersekolah dulu, saya dan kawan-kawan senantiasa membeli banyak buku serta memfotokopi berbagai diktat kuliah jauh lebih banyak dari dapat kita baca, semata-mata karena hal ini memberikan ketenangan psikologis kepada kami. Dengan menumpuk buku, kami merasa siap menghadapi tugas apapun. Padahal bahan yang bertumpuk itu tak pernah sekalipun kami baca, sehingga tidak akan pernah berpengaruh terhadap pengetahuan, apalagi kehidupan kami. Rasa aman yang tercipta sebenarnya hanyalah sebuah ilusi yang menyesatkan.

Kedua, orang tidak melakukan apa yang mereka ketahui karena mereka tidak memeliki alasan untuk melakukannya. Bukanlah ketika kita sehat kita tidak punya alasan yang kuat untuk berolah raga? Bukankah ketika perusahaan sedang naik daun kita tidak merasa perlu melakukan perubahan? Ini disebut "Ilusi perubahan" yang mengatakan bahwa satu-satunya alasan yang masuk akal untuk perubahan adalah ketika terjadi krisis. Padahal perubahan yang terjadi karena krisis pasti terasa menyakitkan, membutuhkan biaya yang besar, dan sering sudah terlambat. Bukankah alasan terbaik untuk melakukan perubahan adalah buat mempertahankan posisi yang sudah kita nikmati selama ini?
Bukankah perubahan mestinya adalah sesuatu yang kita "haruskan" kepada diri kita sendiri, bukannya menunggu hal itu "diharuskan" oleh situasi, keadaan, pelanggan dan pesaing?

Ketiga, orang tidak melakukan apa yang sudah diketahuinya karena tidak mau meninggalkan zona nyamannya. Apa pun yang biasa kita lakukan memang mencipkan gaya gravitasi yang luar biasa. Karena itu, keinginan menerapkan sesuatu yang baru selalu menciptakan medan pertempuran dalam diri kita. Pertempuran ini sering berjalan tidak seimbang karena kebiasaan lama pasti memiliki gaya tarik yang lebih besar. Belum lagi, ada faktor lingkungan yang juga cukup besar pengaruhnya. Maka, tidak aneh bahwa pertarungan ini akan dengan mudah dimenangi kebiasaan-kebiasaan lama kita.

Semua pengetahuan yang tidak dimanfaatkan sebenarnya hanyalah satu bentuk pemborosan. Kapan Anda tahu bahwa perlu menelepon seorang pelanggan? Akan tetapi, kapan Anda benar-benar meneleponnya? Kapan Anda tahu bahwa membangun jejaring itu penting bagi Anda? Akan tetapi, kapan Anda mulai membangun jejaring tersebut? Kesenjangan antara "Kapan Anda mengetahui" dan "Kapan Anda melakukan", itulah definisi pemborosan waktu. Lebih jauh lagi, Anda sebenarnya baru disebut sebagai seorang pemimpin bila Anda melakukan" bukan sekedar "mengetahui". Bahkan, bukankah di akhir hidup kita, kita tidak akan ditanya mengenai apa yang kita ketahui? Bukankah pertanyaan terpenting adalah apa yang telah kita lakukan?

Oleh Arvan Pradiansyah